Sebuah Tinjauan : Menjadikan Blog Guru sebagai Media Pembelajaran Interaktif
Abstrak :
Abstrak :
Selain situs jejaring sosial yang demikian banyak, anak-anak bangsa ini juga dihadapkan dengan ratusan situs-situs yang isinya belum dan tidak layak untuk dilihat karena memuat pornografi baik secara verbal atau visual. Betapapun usaha dan regulasi yang telah dilakukan pemerintah untuk menghadang kehadirannya, situs-situs tersebut tetap dengan mudah dibuka di warnet-warnet atau di rumah sekalipun.
Disinilah peran sekolah dan guru menjadi sangat penting untuk mengurangi dampak negatif dari derasnya arus globalisasi tersebut. Ketika situs jejaring sosial begitu dasyat daya magnetnya, para guru dituntut untuk mampu mengambil bagian dalam mengurangi dampak negatifnya. Guru dapat membuat sumber informasi lain yang tidak kalah kuat daya magnetnya. Blog adalah salah satu alternatif yang dapat dibuat oleh para guru agar para peserta didik dapat berinteraksi dengan guru diluar kelas. Daya magnetnya bukan karena berisi game atau hiburan tetapi dengan blog kita bisa menampilkan bahan ajar yang kita sampaikan di kelas, penugasan, latihan-latihan soal atau quis secara online.
Mampukah blog guru menjadi lawan tangguh situs jejaring sosial? Ataukah ia akan kalah telak dan menjadi peserta penggembira saja dalam jagat internet? Semua tergantung dari seberapa besar usaha para guru untuk memberi perlawanan. Andai semua guru di sekolah mampu berbuat yang terbaik, pasti usaha kita akan menuai hasil yang diharapkan. Alangkah indahnya apabila semua guru di suatu sekolah mampu dan mau menjadi blogger untuk menunjang metode pembelajarannya. Betapa hebatnya manakala para peserta didik dengan gembira menjadikan blog guru sebagai suatu kebutuhan dan situs wajib yang harus dikunjungi. Dan betapa gembiranya para orang tua ketika mengetahui anak-anaknya tidak lagi menghabiskan waktunya menjadi facebookker atau menjelajahi internet untuk sekedar mencari gameonline.
Kalah dan menang tentu bukan tujuan akhir dari perlombaan ini. Tetapi usaha para guru memberi media lain di luar media pembelajaran konvensional pasti akan mempunyai arti dan manfaat bagi murid. Dan yang tidak kalah penting adalah mari mengajak anak bangsa ini berpikir kritis untuk meninggalkan pola pikir praktis yang serba hedonis.
Di era global seperti sekarang ini, teknologi informasi dan komunikasi sudah menjadi bagian dari kehidupan banyak orang. Hal ini dapat dipahami karena teknologi tersebut telah mempengaruhi hampir keseluruhan aspek kehidupan manusia karena manfaatnya sangat dirasakan. Oleh karena itu, sebaiknya seseorang tidak 'gagap' teknologi, apalagi jika ia seorang guru atau seorang pendidik. Peran guru sangat besar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Bila tujuan pembelajaran tercapai dan dalam pembelajaran peserta didik terlibat dan aktif dalam belajar, guru dikatakan berhasil membelajarkan dan membuat mereka belajar. Maka pembelajaran demikian akan menghasilkan perubahan, yakni perubahan pengetahuan, perasaan dan perilaku. Sehingga guru telah menjadi agen pembaharuan bagi para peserta pembelajaran.
Sebagai agen pembaharuan, perlu guru yang baik dan berkualitas. Menurut Peter G. Beidler yang dikutip Dede Rosyada terdapat sepuluh kriteria guru yang baik:
1. Seorang guru yang baik harus benar-benar berkeinginan untuk menjadi guru yang baik. Guru yang baik harus mencoba, dan terus mencoba, dan biarkan siswa-siswa tahu dengan usaha mencoba tersebut, dan bahkan guru juga sangat menghargai siswanya yang senantiasa melakukan percobaan, walaupun para siswa tidak pernah sukses dalam apa yang mereka kerjakan. Dengan demikian, para siswa akan menghargai guru, walaupun sebagai guru sangat mungkin tidak sebaik yang diinginkan.
2. Seorang guru yang baik berani mengambil risiko, berani menyusun tujuan yang sangat muluk, dan berjuang untuk mencapainya.
3. Seorang guru yang baik memiliki sikap yang positif. Seorang guru tidak boleh sinis dengan pekerjaannya, harus bangga dengan profesinya.
4. Seorang guru yang baik tidak punya waktu yang cukup. Guru yang baik tidak punya waktu untuk bersantai, waktunya habis untuk memberikan pelayanan terbaik untuk siswa-siswanya.
5. Guru yang baik berpikir bahwa mengajar adalah sebuah tugas menjadi orang tua siswa, yakni bahwa guru punya tanggung jawab terhadap siswa sama dengan tanggung jawab terhadap putra-putrinya sendiri dalam batas-batas kompetensi keguruan, yakni guru punya otoritas untuk mengarahkan siswanya sesuai basis kemampuannya.
6. Guru yang baik harus selalu mencoba membuat siswanya percaya diri, karena tidak semua siswa memiliki rasa percaya diri yang seimbang dengan prestasinya.
7. Seorang guru yang baik juga selalu membuat posisi tidak seimbang antara siswa dengan dirinya, yakni dia selalu menciptakan jarak antara. Kemampuannya dengan kemampuan siswanya, sehingga siswa-siswa senantiasa sadar bahwa perjalanan menggapai kompetensinya masih panjang, dan membuat siswa-siswa terus berusaha untuk menutupi berbagai kelemahannya dengan melakukan berbagai kegiatan dan menambah pengalaman keilmuannya.
8. Seorang guru yang baik selalu mencoba memacu siswa-siswanya untuk hidup mandiri, lebih independen, khususnya untuk sekolah-sekolah menengah atau college, mereka harus sudah mulai dimotivasi untuk mandiri dan independen.
9. Seorang guru yang baik tidak percaya penuh terhadap evaluasi yang diberikan siswanya, karena evaluasi mereka terhadap gurunya bisa tidak objektif, walaupun pernyataan-pernyataan siswa penting sebagai informasi, namun tidak sepenuhnya harus dijadikan patokan untuk mengukur kinerja keguruaannya.
10. Seorang guru yang baik senantiasa mendengarkan terhadap pernyataan–pernyataan siswanya, yakni guru itu harus aspiratif mendengarkan dengan bijak permintaan-permintaan siswa-siswanya, kritik-kritik siswanya, serta berbagai saran yang disampaikan.
Kata-kata mencoba dan terus mencoba dalam uraian Peter G. Beidler di atas dapatlah diartikan bahwa guru harus senantiasa berusaha dan belajar. Seorang guru yang baik tidak punya waktu yang cukup. Guru yang baik tidak punya waktu untuk bersantai, tetapi senantiasa memikirkan pelayanan terbaik apa yang diberikan ke murid. Dan yang menarik bagi penulis adalah seorang guru yang baik juga selalu membuat posisi tidak seimbang antara siswa dengan dirinya. Kemampuannya harus lebih dibanding dengan kemampuan siswanya, sehingga siswa-siswa senantiasa sadar bahwa perjalanan menggapai kompetensinya masih panjang. Pendek kata guru harus senantiasa tidak ketinggalam informasi. Informasi dari mana saja dan tentang apa saja apalagi yang berhubungan dengan mata pelajaran yang diampunya.
Tidak salah kiranya pameo “Siapa yang menguasai informasi akan menguasai dunia” kita jadikan bahan rujukan dalam pembahasan ini. Banyak orang-orang sukses bercerita bahwa siapa yang terlambat menguasai informasi, maka terlambat pulalah memperoleh kesempatan-kesempatan untuk maju. Demikian juga dengan para guru yang mampu menguasai informasi lebih banyak akan mampu melakukan pembelajaran dengan lebih bervariasi dan bermakna. Dan pada akhirnya hanya guru-guru yang mengajar bermakna yang lebih membawa perubahan pada muridnya dan pasti lebih disenangi.
Dengan pertumbuhan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat, internet telah menjadi suatu medium belajar dan mengajar yang perlu diperhitungkan kemanfaatannya. Internet mempunyai potensi yang besar dalam menunjang pembelajaran, baik sebagai sumber belajar, media, maupun pendukung pengelolaan proses belajar-mengajar. Mengingat berbagai ragam informasi tersedia di internet dan dapat diakses secara lebih mudah, kapan saja, dan di mana saja sehingga internet menjadi suatu kebutuhan penting dalam dunia pendidikan.
Selain internet dapat memberikan informasi yang sifatnya mendidik, positif, dan bermanfaat, internet juga bisa menjadi sumber kejelekan dan kemaksiatan. Hadirnya banyak situs-situs jejaring sosial (social networking) seperti facebook, twitter, friendster, myspace, dan lain-lain menjadikan internet memiliki daya magnet yang luar biasa. Justru pada situs-situs jejaring sosial inilah para peserta didik lebih tertarik memanfaatkan internet.
Berdasarkan hasil riset Yahoo di Indonesia yang bekerja sama dengan Taylor Nelson Sofres pada tahun 2009, pengguna terbesar internet adalah usia 15-19 tahun, sebesar 64 persen. Riset itu dilakukan melalui survei terhadap 2.000 responden. Sebanyak 53 persen dari kalangan remaja itu mengakses internet melalui warung internet (warnet), sementara sebanyak 19 persen mengakses via telepon seluler. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia pada 2009 menyebutkan, pengguna internet di Indonesia diperkirakan mencapai 25 juta. Pertumbuhannya setiap tahun rata-rata 25 persen. Riset Nielsen juga mengungkapkan, pengguna facebook pada 2009 di Indonesia meningkat 700 persen dibanding pada tahun 2008. Sementara pada periode tahun yang sama, pengguna twitter tahun 2009 meningkat 3.700 persen. Sebagian besar pengguna berusia 15-39 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa memang benar adanya pengguna situs jejaring sosial lebih banyak dari kalangan remaja usia sekolah.
Akhir-akhir ini banyak dijumpai pemberitaan di media cetak dan elektronik yang memberitakan tentang penyalahgunaan situs jejaring sosial. Pernah diberitakan kasus seorang anak remaja laki-laki yang membawa kabur seorang anak remaja perempuan yang dikenal lewat situs jejaring sosial (facebook). Selain itu penyalahgunaan situs jejaring sosial (facebook) juga digunakan sebagai ajang prostitusi di kalangan remaja. Selain kedua hal tersebut, masih banyak lagi masalah-masalah yang ditimbulkan dari situs pertemanan tersebut.
Selain situs jejaring sosial yang demikian banyak, anak-anak bangsa ini juga dihadapkan dengan ratusan situs-situs yang isinya belum dan tidak layak untuk dilihat karena memuat pornografi baik secara verbal atau visual. Betapapun usaha dan regulasi yang telah dilakukan pemerintah untuk menghadang kehadirannya, situs-situs tersebut tetap dengan mudah dibuka di warnet-warnet atau di rumah sekalipun. Dengan isi yang penuh hiburan dan menyegarkan anak bangsa yang senantiasa haus kesenangan dan kepuasan, sungguh suatu hal yang berdaya magnet luar biasa.
Disinilah peran sekolah dan guru menjadi sangat penting untuk mengurangi dampak negatif dari derasnya arus globalisasi tersebut. Kondisi etika, mental, dan keimanan murid pada akhirnya yang menentukan batas-batasnya. Guru harus senantiasa melakukan usaha-usaha penguatan karakter dan membentuk watak anak bangsa ini. Guru harus mendorong anak-anak untuk senantiasa berpikir kritis, tidak sekedar menerima suatu hal yang praktis dan menghibur (hedonisme).
Betapapun terdapat banyak kritik yang dilancarkan oleh berbagai kalangan terhadap dunia pendidikan, namun hampir semua pihak sepakat bahwa nasib suatu bangsa di masa depan sangat bergantung pada seberapa besar kontribusi pendidikan. Shane (1984: 39), misalnya sangat yakin bahwa pendidikan dapat memberikan kontribusi pada kebudayaan di hari esok. Pendapat tersebut senada dalam penjelasan Umum Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional (UU No. 20/2003), yang antara lain menyatakan: “Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran dan/atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat”.
Masalahnya, sudahkan guru-guru kita sebagai ujung tombak dunia pendidikan mampu menjawab tantangan profesinya tersebut. Disamping melakukan transfer ilmu pengetahuan, guru juga dituntut untuk membentuk karakter anak bangsa. Pendidikan karakter kini memang menjadi isu utama pendidikan, selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak anak bangsa. Pendidikan karakter ini pun diharapkan mampu menjadi pondasi utama dalam mensukseskan Indonesia Emas 2025. Oleh karena itu sekolah sebagai bagian dari lingkungan memiliki peranan yang sangat penting. Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Bapak Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D dalam Rembuk Nasional yang diadakan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menganjurkan agar setiap sekolah dan seluruh lembaga pendidikan memiliki school culture, dimana setiap sekolah memilih pendisiplinan dan kebiasaan mengenai karakter yang akan dibentuk.
Ketika situs jejaring sosial begitu dahsyat daya magnetnya, para guru dituntut untuk mampu mengambil bagian dalam mengurangi dampak negatifnya. Guru dapat membuat sumber informasi lain yang tidak kalah kuat daya magnetnya. Salah satu alternative cara yang dapat dilakukan guru adalah membuat blog. Membuat blog adalah membuat suatu situs web secara instan di internet agar para peserta didik dapat berinteraksi dengan guru diluar kelas. Dengan blog kita bisa menampilkan bahan ajar yang kita sampaikan di kelas, penugasan, latihan-latihan soal atau quis secara online. Daya magnetnya bukan karena berisi game atau hiburan, tetapi peserta didik dapat belajar online di blog gurunya. Secara perlahan atau setengah dipaksa, murid harus kita biasakan mengunjungi blog guru untuk melihat informasi atau tugas-tugas dari gurunya.
Apakah blog itu? Sebuah blog adalah buku harian pribadi. Mimbar seseorang setiap hari, outlet berita terkini, koleksi link, pikiran pribadi seseorang, dan catatan untuk dunia. Blog dapat menjadi apapun yang kita inginkan. Ada berjuta-juta blog, dalam segala bentuk dan ukuran, dan tidak ada aturan yang sesungguhnya. Dalam terminologi sederhana, sebuah blog adalah sebuah situs web, di mana seseorang dapat menuliskan hal-hal yang berbasis peristiwa yang sedang berlangsung. Hal yang baru tampil di paling atas, sehingga pengunjung dapat membaca apa yang baru. Kemudian mereka dapat mengomentarinya atau menambahkan link atau mengemailnya. Sejak Blogger diluncurkan pada 1999, blog telah mengubah bentuk web dan memungkinkan jutaan orang untuk memiliki suara dan terhubung dengan yang lain.
Mampukah blog guru menjadi lawan tangguh situs jejaring sosial? Ataukah ia akan kalah telak dan menjadi peserta penggembira saja dalam jagat internet? Semua tergantung dari seberapa besar usaha para guru untuk memberi perlawanan. Andai semua guru di sekolah mau dan mampu membuat blog yang baik dan menarik, pasti akan menuai hasil yang diharapkan. Ibarat suatu perlombaan lari kita memang terlambat start. Akankah kita menang? Kalah dan menang tentu bukan tujuan akhir dari “perlombaan” ini. Tetapi usaha para guru memberi media lain di luar media pembelajaran konvensional pasti akan mempunyai arti dan manfaat bagi murid.
Sejawat guru tidak perlu khawatir dan membayangkan betapa sulitnya membuat blog. Secara instan menurut Asdanti Kindarto (2005: 2), sekumpulan informasi dalam sebuah blog dapat disajikan secara professional seolah dibuat oleh ahli desainer web. Kita tidak perlu sampai pada level “sangat mahir” menulis di halaman web atau blog. Hal ini dikarenakan telah banyak situs penyedia blog yang menyediakan layanan tersebut secara gratis dan bebas bagi siapa saja yang ingin memanfaatkannya. Selain Blogger.com terdapat Xanga.com, Blogsome.com, Multiply.com, Blogdrive.com, dan juga Wordpress.com yang menyediakan layanan blog gratis. Sifat blog yang serba cepat, interaktif, menarik, dan mudah di-update ini tentunya seiring dengan dinamika kaum muda pengguna internet yang selalu menginginkan kemudahan dan kecepatan.
Dengan blog interaksi tidak dibatasi oleh ruang dan waktu tetapi bisa berlangsung kapanpun, dimanapun dan berulang-ulang. Sumber belajar yang berupa audio, animasi, atau video dapat di-posting di blog guru sehingga para siswa dapat belajar kembali melalui internet. Dengan adanya blog guru, murid dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang. Selain itu kita juga dapat berkomunikasi dengan guru setiap saat, misalnya melalui chatting dan email. Mengingat sumber belajar yang sudah dikemas secara elektronik dan tersedia untuk diakses melalui internet, maka kita dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar ini kapan dan dari mana saja, juga tugas-tugas pekerjaan rumah dapat diserahkan kepada guru begitu selesai dikerjakan.
Misalnya seorang guru bahasa Indonesia yang melakukan pembelajaran membuat ringkasan berita, ia menggunakan video tentang berita bencana alam dalam pembelajaran di kelasnya. Guru dapat memasang (posting) video itu di blog agar peserta didik dapat melihatnya berulang-ulang di internet. Video itu dapat dilihat kapan saja dan dimana saja, tidak terikat oleh waktu dan tempat. Seorang guru kesenian yang kreatif dapat memberikan gambaran tentang aneka kesenian daerah dengan menayangkan sejumlah video, tidak hanya sekedar bercerita. Video itu dapat diunduh peserta didik untuk dibuat resume sebagai tugas guru. Guru matematika dapat menempatkan bahan-bahan belajar seperti gambar dan animasi dalam blog untuk diakses oleh para peserta didik dan dipelajarinya berulang-ulang. Dan yang tidak kalah penting guru dapat memberikan pendidikan karakter melalui tulisan-tulisan yang menggugah nurani siswa.
Guru dapat pula memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengakses soal-soal ujian atau quis yang dapat diakses oleh peserta didik rentangan waktu tertentu pula. Dengan kata lain kita dapat menjadikan soal-soal atau quis tersebut sebagai portofolio dalam penilaian. Selain itu guru juga dapat membuat penugasan selain quis dalam blognya, dan siswa dapat mengirimkan jawaban by email.
Dengan kalimat yang lain, manfaat internet dalam pembelajaran atau dalam istilah teknologi informasi dan komunikasi disebut e-learning dapat dirinci sebagai berikut:
1. Pembelajaran dari mana dan kapan saja.
2. Bertambahnya intensitas dan kualitas interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan guru.
3. Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas.
4. Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran.
Alangkah indahnya apabila semua guru di suatu sekolah mampu dan mau menjadi blogger untuk menunjang metode pembelajarannya. Betapa hebatnya manakala para peserta didik dengan gembira menjadikan blog guru sebagai suatu kebutuhan dan situs wajib yang harus dikunjungi. Dan betapa gembiranya para orang tua ketika mengetahui anak-anaknya tidak lagi menghabiskan waktunya menjadi facebookker atau menjelajahi internet untuk sekedar mencari gameonline. Ini tentu bukan sebuah angan-angan yang tidak dapat diwujudkan atau sebuah cita-cita yang terlalu tinggi. Penulis yakin para guru dengan sedikit belajar dan berusaha pasti dapat melakukannya.
Penulis sudah banyak melihat dan mengunjungi blog yang dibuat oleh guru, namun sedikit sekali yang menjadikan blog itu sebagai media pembelajaran. Kondisi ini disebabkan oleh aneka hal. Mungkin karena keterbatasan kemampuan guru-guru dalam membuat blog yang interaktif. Bisa juga karena kurangnya informasi betapa pentingnya manfaat internet dalam pembelajaran. Tentu ini bukanlah pekerjaan rumah untuk guru saja, tetapi seluruh pengambil kebijakan di bidang pendidikan harus merasa bertanggung jawab. Kepala sekolah, pengawas pendidikan, kepala dinas pendidikan kabupaten/kota dan seluruh instansi terkait juga harus bertanggung jawab.
Penulis menyadari sepenuhnya manfaat blog guru ini, dan sudah berbuat semampunya. Tentu kurang bijaksana apabila penulis mendorong dan memotivasi sejawat guru tetapi tidak memiliki blog. Untuk itu sebagai guru matematika, penulis juga telah berusaha semaksimal mungkin membuat blog dan memanfaatkan untuk media pembelajaran. Sebuah kebanggaan bagi penulis apabila sejawat guru bersedia mengunjungi blog tersebut pada alamat http://agenmatematika.blogspot.com.
Dalam blog tersebut berisi posting tentang materi pelajaran, yaitu animasi-animasi, materi kontekstual, soal-soal interaktif, dan quis. Dengan sedikit keterampilan animasi-animasi dan quis dapat dibuat dengan program Macromedia Flash. Untuk mempercantik blog dapat dipasang fitur (gadget) kirim email ke guru, chatting, download file, dan lain-lain. Juga terdapat laman (elemen halaman) berisi nilai ulangan, quis online dan referensi alamat-alamat internet yang relevan dengan tugas guru.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki banyak kekurangan blog tersebut. Tetapi penulis berkeyakinan esok masih ada asa, dan perjuangan mencerdaskan anak bangsa belum usai. Untuk itu pengunjung diharapkan memberi komentar, kritik, atau saran sebagai masukan agar blog saya lebih baik lagi.
Berdasarkan pengalaman penulis, peserta didik sangat antusias dengan blog yang telah penulis buat terutama dengan adanya quis interaktif. Seolah berlomba dengan waktu, peserta didik mengerjakan quis yang sudah ditentukan periode waktu mengerjakannya. Setelah mengerjakan quis peserta didik dapat mencetak sertifikat nilai untuk dikumpulkan ke guru. Dengan mengerjakan quis secara online penulis dapat menjadikan nilai quis tersebut sebagai portofolio.
Sejawat guru jangan membayangkan butuh keahlian khusus untuk membuat quis interaktif di halaman web. Anda dapat mengunjungi dan menggunakan situs-situs yang khusus menyediakan pembuatan quis (Quiz Creator). Banyak diantaranya yang menyediakan layanan gratis dengan fasilitas yang cukup memadahi. Sebagaimana yang penulis lakukan dalam membuat quis online, penulis menggunakan situs http://www.proprofs.com. Selain kita dapat menulis quis dengan mudah, pengaturan-pengaturan lain sudah secara otomatis dilakukan situs tersebut. Kita tinggal mengunduh kode script (embed), dan memasang dalam halaman posting kita saja.
Apapun bentuk blog yang kita buat, tentu memiliki nilai manfaat dalam pembelajaran kita. Kalau tidak sekarang kapan lagi kita mulai membangun professional kita. Apalagi bagi kita yang sudah menyandang status guru professional, yang menerima tunjangan profesional pendidik (TPP) dalam jumlah yang tidak sedikit. Selamat berkarya sejawat guru, semoga karya anda memberi sumbangsih dalam membentuk karakter bangsa. Bravo guru Indonesia.
DAFTAR RUJUKAN
Kindarto, Asdani., 2005. Tip Mudah Membuat Blog Bergaya dan Interaktif. Semarang: Andi Offset.
Shane, Harlod G., 1984. Arti Pendidikan bagi Masa Depan. Jakarta: Rajawali Pers.
http://www.blogger.com, 23 September 2011
http://www.dikti.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1540:pendidikan-karakter-sebagai-pondasi-kesuksesan-peradaban-bangsa&catid=143:berita-harian, 4 September 2011.
http://www.kompas.com/Berjejaring Sosial Itu Butuh Kedewasaan. 22 Pebruari 2010
http://ridhotha.wordpress.com/2010/02/23/dampak-negatif-situs-jejaring-sosial-terhadap-motivasi-dan-prestasi-belajar-siswa/, 23 Pebruari 2010.
http://djejak_pro.blog spot.com/2009/03/Profil Guru _ideal html.
http://repository.upi.edu/operator/upload/s_a0651_0803198_chapter1.pdf
http://anugerawan.blogspot.com/2009/12/dampak-negatif-dan-positif-jaringan.html. 21 Pebruari 2010.
Sebagai agen pembaharuan, perlu guru yang baik dan berkualitas. Menurut Peter G. Beidler yang dikutip Dede Rosyada terdapat sepuluh kriteria guru yang baik:
1. Seorang guru yang baik harus benar-benar berkeinginan untuk menjadi guru yang baik. Guru yang baik harus mencoba, dan terus mencoba, dan biarkan siswa-siswa tahu dengan usaha mencoba tersebut, dan bahkan guru juga sangat menghargai siswanya yang senantiasa melakukan percobaan, walaupun para siswa tidak pernah sukses dalam apa yang mereka kerjakan. Dengan demikian, para siswa akan menghargai guru, walaupun sebagai guru sangat mungkin tidak sebaik yang diinginkan.
2. Seorang guru yang baik berani mengambil risiko, berani menyusun tujuan yang sangat muluk, dan berjuang untuk mencapainya.
3. Seorang guru yang baik memiliki sikap yang positif. Seorang guru tidak boleh sinis dengan pekerjaannya, harus bangga dengan profesinya.
4. Seorang guru yang baik tidak punya waktu yang cukup. Guru yang baik tidak punya waktu untuk bersantai, waktunya habis untuk memberikan pelayanan terbaik untuk siswa-siswanya.
5. Guru yang baik berpikir bahwa mengajar adalah sebuah tugas menjadi orang tua siswa, yakni bahwa guru punya tanggung jawab terhadap siswa sama dengan tanggung jawab terhadap putra-putrinya sendiri dalam batas-batas kompetensi keguruan, yakni guru punya otoritas untuk mengarahkan siswanya sesuai basis kemampuannya.
6. Guru yang baik harus selalu mencoba membuat siswanya percaya diri, karena tidak semua siswa memiliki rasa percaya diri yang seimbang dengan prestasinya.
7. Seorang guru yang baik juga selalu membuat posisi tidak seimbang antara siswa dengan dirinya, yakni dia selalu menciptakan jarak antara. Kemampuannya dengan kemampuan siswanya, sehingga siswa-siswa senantiasa sadar bahwa perjalanan menggapai kompetensinya masih panjang, dan membuat siswa-siswa terus berusaha untuk menutupi berbagai kelemahannya dengan melakukan berbagai kegiatan dan menambah pengalaman keilmuannya.
8. Seorang guru yang baik selalu mencoba memacu siswa-siswanya untuk hidup mandiri, lebih independen, khususnya untuk sekolah-sekolah menengah atau college, mereka harus sudah mulai dimotivasi untuk mandiri dan independen.
9. Seorang guru yang baik tidak percaya penuh terhadap evaluasi yang diberikan siswanya, karena evaluasi mereka terhadap gurunya bisa tidak objektif, walaupun pernyataan-pernyataan siswa penting sebagai informasi, namun tidak sepenuhnya harus dijadikan patokan untuk mengukur kinerja keguruaannya.
10. Seorang guru yang baik senantiasa mendengarkan terhadap pernyataan–pernyataan siswanya, yakni guru itu harus aspiratif mendengarkan dengan bijak permintaan-permintaan siswa-siswanya, kritik-kritik siswanya, serta berbagai saran yang disampaikan.
Kata-kata mencoba dan terus mencoba dalam uraian Peter G. Beidler di atas dapatlah diartikan bahwa guru harus senantiasa berusaha dan belajar. Seorang guru yang baik tidak punya waktu yang cukup. Guru yang baik tidak punya waktu untuk bersantai, tetapi senantiasa memikirkan pelayanan terbaik apa yang diberikan ke murid. Dan yang menarik bagi penulis adalah seorang guru yang baik juga selalu membuat posisi tidak seimbang antara siswa dengan dirinya. Kemampuannya harus lebih dibanding dengan kemampuan siswanya, sehingga siswa-siswa senantiasa sadar bahwa perjalanan menggapai kompetensinya masih panjang. Pendek kata guru harus senantiasa tidak ketinggalam informasi. Informasi dari mana saja dan tentang apa saja apalagi yang berhubungan dengan mata pelajaran yang diampunya.
Tidak salah kiranya pameo “Siapa yang menguasai informasi akan menguasai dunia” kita jadikan bahan rujukan dalam pembahasan ini. Banyak orang-orang sukses bercerita bahwa siapa yang terlambat menguasai informasi, maka terlambat pulalah memperoleh kesempatan-kesempatan untuk maju. Demikian juga dengan para guru yang mampu menguasai informasi lebih banyak akan mampu melakukan pembelajaran dengan lebih bervariasi dan bermakna. Dan pada akhirnya hanya guru-guru yang mengajar bermakna yang lebih membawa perubahan pada muridnya dan pasti lebih disenangi.
Dengan pertumbuhan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat, internet telah menjadi suatu medium belajar dan mengajar yang perlu diperhitungkan kemanfaatannya. Internet mempunyai potensi yang besar dalam menunjang pembelajaran, baik sebagai sumber belajar, media, maupun pendukung pengelolaan proses belajar-mengajar. Mengingat berbagai ragam informasi tersedia di internet dan dapat diakses secara lebih mudah, kapan saja, dan di mana saja sehingga internet menjadi suatu kebutuhan penting dalam dunia pendidikan.
Selain internet dapat memberikan informasi yang sifatnya mendidik, positif, dan bermanfaat, internet juga bisa menjadi sumber kejelekan dan kemaksiatan. Hadirnya banyak situs-situs jejaring sosial (social networking) seperti facebook, twitter, friendster, myspace, dan lain-lain menjadikan internet memiliki daya magnet yang luar biasa. Justru pada situs-situs jejaring sosial inilah para peserta didik lebih tertarik memanfaatkan internet.
Berdasarkan hasil riset Yahoo di Indonesia yang bekerja sama dengan Taylor Nelson Sofres pada tahun 2009, pengguna terbesar internet adalah usia 15-19 tahun, sebesar 64 persen. Riset itu dilakukan melalui survei terhadap 2.000 responden. Sebanyak 53 persen dari kalangan remaja itu mengakses internet melalui warung internet (warnet), sementara sebanyak 19 persen mengakses via telepon seluler. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia pada 2009 menyebutkan, pengguna internet di Indonesia diperkirakan mencapai 25 juta. Pertumbuhannya setiap tahun rata-rata 25 persen. Riset Nielsen juga mengungkapkan, pengguna facebook pada 2009 di Indonesia meningkat 700 persen dibanding pada tahun 2008. Sementara pada periode tahun yang sama, pengguna twitter tahun 2009 meningkat 3.700 persen. Sebagian besar pengguna berusia 15-39 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa memang benar adanya pengguna situs jejaring sosial lebih banyak dari kalangan remaja usia sekolah.
Akhir-akhir ini banyak dijumpai pemberitaan di media cetak dan elektronik yang memberitakan tentang penyalahgunaan situs jejaring sosial. Pernah diberitakan kasus seorang anak remaja laki-laki yang membawa kabur seorang anak remaja perempuan yang dikenal lewat situs jejaring sosial (facebook). Selain itu penyalahgunaan situs jejaring sosial (facebook) juga digunakan sebagai ajang prostitusi di kalangan remaja. Selain kedua hal tersebut, masih banyak lagi masalah-masalah yang ditimbulkan dari situs pertemanan tersebut.
Selain situs jejaring sosial yang demikian banyak, anak-anak bangsa ini juga dihadapkan dengan ratusan situs-situs yang isinya belum dan tidak layak untuk dilihat karena memuat pornografi baik secara verbal atau visual. Betapapun usaha dan regulasi yang telah dilakukan pemerintah untuk menghadang kehadirannya, situs-situs tersebut tetap dengan mudah dibuka di warnet-warnet atau di rumah sekalipun. Dengan isi yang penuh hiburan dan menyegarkan anak bangsa yang senantiasa haus kesenangan dan kepuasan, sungguh suatu hal yang berdaya magnet luar biasa.
Disinilah peran sekolah dan guru menjadi sangat penting untuk mengurangi dampak negatif dari derasnya arus globalisasi tersebut. Kondisi etika, mental, dan keimanan murid pada akhirnya yang menentukan batas-batasnya. Guru harus senantiasa melakukan usaha-usaha penguatan karakter dan membentuk watak anak bangsa ini. Guru harus mendorong anak-anak untuk senantiasa berpikir kritis, tidak sekedar menerima suatu hal yang praktis dan menghibur (hedonisme).
Betapapun terdapat banyak kritik yang dilancarkan oleh berbagai kalangan terhadap dunia pendidikan, namun hampir semua pihak sepakat bahwa nasib suatu bangsa di masa depan sangat bergantung pada seberapa besar kontribusi pendidikan. Shane (1984: 39), misalnya sangat yakin bahwa pendidikan dapat memberikan kontribusi pada kebudayaan di hari esok. Pendapat tersebut senada dalam penjelasan Umum Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional (UU No. 20/2003), yang antara lain menyatakan: “Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran dan/atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat”.
Masalahnya, sudahkan guru-guru kita sebagai ujung tombak dunia pendidikan mampu menjawab tantangan profesinya tersebut. Disamping melakukan transfer ilmu pengetahuan, guru juga dituntut untuk membentuk karakter anak bangsa. Pendidikan karakter kini memang menjadi isu utama pendidikan, selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak anak bangsa. Pendidikan karakter ini pun diharapkan mampu menjadi pondasi utama dalam mensukseskan Indonesia Emas 2025. Oleh karena itu sekolah sebagai bagian dari lingkungan memiliki peranan yang sangat penting. Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Bapak Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D dalam Rembuk Nasional yang diadakan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menganjurkan agar setiap sekolah dan seluruh lembaga pendidikan memiliki school culture, dimana setiap sekolah memilih pendisiplinan dan kebiasaan mengenai karakter yang akan dibentuk.
Ketika situs jejaring sosial begitu dahsyat daya magnetnya, para guru dituntut untuk mampu mengambil bagian dalam mengurangi dampak negatifnya. Guru dapat membuat sumber informasi lain yang tidak kalah kuat daya magnetnya. Salah satu alternative cara yang dapat dilakukan guru adalah membuat blog. Membuat blog adalah membuat suatu situs web secara instan di internet agar para peserta didik dapat berinteraksi dengan guru diluar kelas. Dengan blog kita bisa menampilkan bahan ajar yang kita sampaikan di kelas, penugasan, latihan-latihan soal atau quis secara online. Daya magnetnya bukan karena berisi game atau hiburan, tetapi peserta didik dapat belajar online di blog gurunya. Secara perlahan atau setengah dipaksa, murid harus kita biasakan mengunjungi blog guru untuk melihat informasi atau tugas-tugas dari gurunya.
Apakah blog itu? Sebuah blog adalah buku harian pribadi. Mimbar seseorang setiap hari, outlet berita terkini, koleksi link, pikiran pribadi seseorang, dan catatan untuk dunia. Blog dapat menjadi apapun yang kita inginkan. Ada berjuta-juta blog, dalam segala bentuk dan ukuran, dan tidak ada aturan yang sesungguhnya. Dalam terminologi sederhana, sebuah blog adalah sebuah situs web, di mana seseorang dapat menuliskan hal-hal yang berbasis peristiwa yang sedang berlangsung. Hal yang baru tampil di paling atas, sehingga pengunjung dapat membaca apa yang baru. Kemudian mereka dapat mengomentarinya atau menambahkan link atau mengemailnya. Sejak Blogger diluncurkan pada 1999, blog telah mengubah bentuk web dan memungkinkan jutaan orang untuk memiliki suara dan terhubung dengan yang lain.
Mampukah blog guru menjadi lawan tangguh situs jejaring sosial? Ataukah ia akan kalah telak dan menjadi peserta penggembira saja dalam jagat internet? Semua tergantung dari seberapa besar usaha para guru untuk memberi perlawanan. Andai semua guru di sekolah mau dan mampu membuat blog yang baik dan menarik, pasti akan menuai hasil yang diharapkan. Ibarat suatu perlombaan lari kita memang terlambat start. Akankah kita menang? Kalah dan menang tentu bukan tujuan akhir dari “perlombaan” ini. Tetapi usaha para guru memberi media lain di luar media pembelajaran konvensional pasti akan mempunyai arti dan manfaat bagi murid.
Sejawat guru tidak perlu khawatir dan membayangkan betapa sulitnya membuat blog. Secara instan menurut Asdanti Kindarto (2005: 2), sekumpulan informasi dalam sebuah blog dapat disajikan secara professional seolah dibuat oleh ahli desainer web. Kita tidak perlu sampai pada level “sangat mahir” menulis di halaman web atau blog. Hal ini dikarenakan telah banyak situs penyedia blog yang menyediakan layanan tersebut secara gratis dan bebas bagi siapa saja yang ingin memanfaatkannya. Selain Blogger.com terdapat Xanga.com, Blogsome.com, Multiply.com, Blogdrive.com, dan juga Wordpress.com yang menyediakan layanan blog gratis. Sifat blog yang serba cepat, interaktif, menarik, dan mudah di-update ini tentunya seiring dengan dinamika kaum muda pengguna internet yang selalu menginginkan kemudahan dan kecepatan.
Dengan blog interaksi tidak dibatasi oleh ruang dan waktu tetapi bisa berlangsung kapanpun, dimanapun dan berulang-ulang. Sumber belajar yang berupa audio, animasi, atau video dapat di-posting di blog guru sehingga para siswa dapat belajar kembali melalui internet. Dengan adanya blog guru, murid dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang. Selain itu kita juga dapat berkomunikasi dengan guru setiap saat, misalnya melalui chatting dan email. Mengingat sumber belajar yang sudah dikemas secara elektronik dan tersedia untuk diakses melalui internet, maka kita dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar ini kapan dan dari mana saja, juga tugas-tugas pekerjaan rumah dapat diserahkan kepada guru begitu selesai dikerjakan.
Misalnya seorang guru bahasa Indonesia yang melakukan pembelajaran membuat ringkasan berita, ia menggunakan video tentang berita bencana alam dalam pembelajaran di kelasnya. Guru dapat memasang (posting) video itu di blog agar peserta didik dapat melihatnya berulang-ulang di internet. Video itu dapat dilihat kapan saja dan dimana saja, tidak terikat oleh waktu dan tempat. Seorang guru kesenian yang kreatif dapat memberikan gambaran tentang aneka kesenian daerah dengan menayangkan sejumlah video, tidak hanya sekedar bercerita. Video itu dapat diunduh peserta didik untuk dibuat resume sebagai tugas guru. Guru matematika dapat menempatkan bahan-bahan belajar seperti gambar dan animasi dalam blog untuk diakses oleh para peserta didik dan dipelajarinya berulang-ulang. Dan yang tidak kalah penting guru dapat memberikan pendidikan karakter melalui tulisan-tulisan yang menggugah nurani siswa.
Guru dapat pula memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengakses soal-soal ujian atau quis yang dapat diakses oleh peserta didik rentangan waktu tertentu pula. Dengan kata lain kita dapat menjadikan soal-soal atau quis tersebut sebagai portofolio dalam penilaian. Selain itu guru juga dapat membuat penugasan selain quis dalam blognya, dan siswa dapat mengirimkan jawaban by email.
Dengan kalimat yang lain, manfaat internet dalam pembelajaran atau dalam istilah teknologi informasi dan komunikasi disebut e-learning dapat dirinci sebagai berikut:
1. Pembelajaran dari mana dan kapan saja.
2. Bertambahnya intensitas dan kualitas interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan guru.
3. Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas.
4. Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran.
Alangkah indahnya apabila semua guru di suatu sekolah mampu dan mau menjadi blogger untuk menunjang metode pembelajarannya. Betapa hebatnya manakala para peserta didik dengan gembira menjadikan blog guru sebagai suatu kebutuhan dan situs wajib yang harus dikunjungi. Dan betapa gembiranya para orang tua ketika mengetahui anak-anaknya tidak lagi menghabiskan waktunya menjadi facebookker atau menjelajahi internet untuk sekedar mencari gameonline. Ini tentu bukan sebuah angan-angan yang tidak dapat diwujudkan atau sebuah cita-cita yang terlalu tinggi. Penulis yakin para guru dengan sedikit belajar dan berusaha pasti dapat melakukannya.
Penulis sudah banyak melihat dan mengunjungi blog yang dibuat oleh guru, namun sedikit sekali yang menjadikan blog itu sebagai media pembelajaran. Kondisi ini disebabkan oleh aneka hal. Mungkin karena keterbatasan kemampuan guru-guru dalam membuat blog yang interaktif. Bisa juga karena kurangnya informasi betapa pentingnya manfaat internet dalam pembelajaran. Tentu ini bukanlah pekerjaan rumah untuk guru saja, tetapi seluruh pengambil kebijakan di bidang pendidikan harus merasa bertanggung jawab. Kepala sekolah, pengawas pendidikan, kepala dinas pendidikan kabupaten/kota dan seluruh instansi terkait juga harus bertanggung jawab.
Penulis menyadari sepenuhnya manfaat blog guru ini, dan sudah berbuat semampunya. Tentu kurang bijaksana apabila penulis mendorong dan memotivasi sejawat guru tetapi tidak memiliki blog. Untuk itu sebagai guru matematika, penulis juga telah berusaha semaksimal mungkin membuat blog dan memanfaatkan untuk media pembelajaran. Sebuah kebanggaan bagi penulis apabila sejawat guru bersedia mengunjungi blog tersebut pada alamat http://agenmatematika.blogspot.com.
Dalam blog tersebut berisi posting tentang materi pelajaran, yaitu animasi-animasi, materi kontekstual, soal-soal interaktif, dan quis. Dengan sedikit keterampilan animasi-animasi dan quis dapat dibuat dengan program Macromedia Flash. Untuk mempercantik blog dapat dipasang fitur (gadget) kirim email ke guru, chatting, download file, dan lain-lain. Juga terdapat laman (elemen halaman) berisi nilai ulangan, quis online dan referensi alamat-alamat internet yang relevan dengan tugas guru.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki banyak kekurangan blog tersebut. Tetapi penulis berkeyakinan esok masih ada asa, dan perjuangan mencerdaskan anak bangsa belum usai. Untuk itu pengunjung diharapkan memberi komentar, kritik, atau saran sebagai masukan agar blog saya lebih baik lagi.
Berdasarkan pengalaman penulis, peserta didik sangat antusias dengan blog yang telah penulis buat terutama dengan adanya quis interaktif. Seolah berlomba dengan waktu, peserta didik mengerjakan quis yang sudah ditentukan periode waktu mengerjakannya. Setelah mengerjakan quis peserta didik dapat mencetak sertifikat nilai untuk dikumpulkan ke guru. Dengan mengerjakan quis secara online penulis dapat menjadikan nilai quis tersebut sebagai portofolio.
Sejawat guru jangan membayangkan butuh keahlian khusus untuk membuat quis interaktif di halaman web. Anda dapat mengunjungi dan menggunakan situs-situs yang khusus menyediakan pembuatan quis (Quiz Creator). Banyak diantaranya yang menyediakan layanan gratis dengan fasilitas yang cukup memadahi. Sebagaimana yang penulis lakukan dalam membuat quis online, penulis menggunakan situs http://www.proprofs.com. Selain kita dapat menulis quis dengan mudah, pengaturan-pengaturan lain sudah secara otomatis dilakukan situs tersebut. Kita tinggal mengunduh kode script (embed), dan memasang dalam halaman posting kita saja.
Apapun bentuk blog yang kita buat, tentu memiliki nilai manfaat dalam pembelajaran kita. Kalau tidak sekarang kapan lagi kita mulai membangun professional kita. Apalagi bagi kita yang sudah menyandang status guru professional, yang menerima tunjangan profesional pendidik (TPP) dalam jumlah yang tidak sedikit. Selamat berkarya sejawat guru, semoga karya anda memberi sumbangsih dalam membentuk karakter bangsa. Bravo guru Indonesia.
DAFTAR RUJUKAN
Kindarto, Asdani., 2005. Tip Mudah Membuat Blog Bergaya dan Interaktif. Semarang: Andi Offset.
Shane, Harlod G., 1984. Arti Pendidikan bagi Masa Depan. Jakarta: Rajawali Pers.
http://www.blogger.com, 23 September 2011
http://www.dikti.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1540:pendidikan-karakter-sebagai-pondasi-kesuksesan-peradaban-bangsa&catid=143:berita-harian, 4 September 2011.
http://www.kompas.com/Berjejaring Sosial Itu Butuh Kedewasaan. 22 Pebruari 2010
http://ridhotha.wordpress.com/2010/02/23/dampak-negatif-situs-jejaring-sosial-terhadap-motivasi-dan-prestasi-belajar-siswa/, 23 Pebruari 2010.
http://djejak_pro.blog spot.com/2009/03/Profil Guru _ideal html.
http://repository.upi.edu/operator/upload/s_a0651_0803198_chapter1.pdf
http://anugerawan.blogspot.com/2009/12/dampak-negatif-dan-positif-jaringan.html. 21 Pebruari 2010.